Selasa, 15 Mei 2012

Hidup ini hanya sekali dan sesaat, so. . Go Move On . . !!


v  Saat kita diciptakan
Rasulullah saw. yang mulia, para sahabatnya, para khalifah, para ulama, ilmuwan muslim di masa kejayaan Islam, pejuangnya dan orang-orang hebat dan mulia karena keimanan dan ketakwaan lainnya diciptakan dengan proses penciptaan yang sama. Berawal dari sel sperma yang membuahi sel telur dan atas izin Allah Swt, jadilah embrio, lalu dalam waktu tertentu tumbuh sebagai janin dan akhirnya lahir ke dunia. Bagaimana dengan para begundal macam Fir’aun, Abu Jahal, Hitler, Mussolini, George W Bush dan orang yang sejenis perilakunya dengan mereka, apakah diciptakan dari bahan yang berbeda dengan orang-orang yang mulia? Nggak. Sama, Bro. Semua manusia diciptakan sama. Bahan bakunya sama: sel sperma (air mani) dan ovum (sel telur).
Allah Swt, menyampaikan penjelasan ini dalam firmanNya (yang artinya): “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,” (QS al-Qiyaamah [75]: 37-38)
Dalam ayat lain (yang artinya): “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS al-Insaan [76]: 2)
amat jelas. Bahwa yang beriman dan yang kafir diciptakan oleh Allah Swt. dari bahan yang sama. So, yang membedakan mereka satu sama lain ketika sudah lahir ke dunia adalah informasi dan cara belajarnya untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Apa yang diperbuatnya di dunia inilah yang akan dipertanggung jawabkan nanti di akhirat kelak.
Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).” (QS al-Mu’min [40]: 67)
Juga dalam ayat yang lain Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS Kahfi [18]: 37)
Ayat-ayat ini membuktikan kepada kita bahwa manusia (anak keturunan Adam) diciptakan dari “bahan baku” yang sama. Orang yang sekarang beriman, berilmu dan gemar beramal shalih ditempatkan di rahim ibunya sebelum lahir ke dunia. Orang yang pikirannya korengan dan hatinya borok alias gemar maksiat dan tak mengimani Allah Swt. pun sebelum lahir ditempatkan sama di rahim ibunya. Tak ada bedanya.
Kalo dalam penciptaan saja sama, dan saat itu kita lemah kenapa harus merasa berkuasa dan menentang Allah Swt.? Kalo memang perkasa, harusnya nggak lemah dan bisa menghidupi diri sendiri sejak “menciptakan diri sendiri” sampai lahir ke dunia. Iya nggak sih? Nah inilah renungan buat kita semua, bahwa kita sejak awal penciptaan tak dibedakan prosesnya.
Oya, ini juga menjadi proses kesadaran bagi kita bahwa kita tak perlu merasa minder dengan orang yang hebat saat ini. Kita hanya perlu memahami bahwa “start” semua orang sama. Semua manusia lahir ke dunia setelah melalui proses yang sama. Itu sebabnya, tidak ada alasan bahwa kita harus menyerah dan tak semangat dalam hidup. Sebaliknya, siapkan diri untuk berprestasi. Karena hidup tak sekadar tumbuh, tapi juga harus berkembang. Kalo cuma tumbuh, kita jadi nggak ada bedanya dengan ‘peradaban’ hewan. Justru kelebihan manusia dari hewan adalah karena manusia memiliki akal untuk berpikir. Contoh nyata, manusia dengan pemikirannya bisa mengembangkan kehidupannya. Hewan tidak. Jika manusia kedinginan ia akan mencari kehangatan. Tidak puas dengan sekadar duduk di depan api unggun, manusia menciptakan pakaian pelindung, menciptakan tempat tinggal yang bukan saja melindunginya dari dingin, tapi juga sengatan matahari. Hewan? Malah manusia yang membuatkan rumah, eh kandangnya. Silakan eksplorasi sendiri perkembangan yang berhasil dibuat oleh manusia. Amat banyak dan bahkan teramat terbanyak. Allah Swt. memberikan semua itu untuk kebaikan manusia. Tetapi ternyata masih aja ada manusia yang nggak menyadarinya.
v  Hiasi dengan iman, ilmu dan amal
Para orangtua kita mungkin sering banget nasihatin kita soal kehidupan. Maklumlah, mereka kan lebih banyak waktu yang dihabiskannya di dunia ini ketimbang kita. Usianya aja jelas jauh beda ama kita. Iya dong, kalo seumuran namanya temen, bukan ortu. So, wajar banget dong kalo nasihatin kita-kita soal hidup. Karena ortu kita udah pengalaman puluhan tahun lebih lama di dunia ini ketimbang kita-kita. Tul nggak sih?
Sobat muda muslim, kita juga jadi bisa belajar kepada ortu atau siapa pun yang lebih pengalaman dan lebih tahu tentang bagaimana menjalani hidup dengan nyaman, aman, dan tentunya menikmatinya dengan senang hati. Meski, tentu saja, bukan hidup namanya kalo nggak ada rintangan, halangan, dan bahkan tekanan. Karena kehidupan itu sendiri adalah ladang ujian buat kita, sekaligus ladang ibadah dan amal. Kalo kita bisa menjalaninya dengan baik, maka ujian hidup itu akan memberikan kita pengalaman yang sangat berarti.
Itu sebabnya, kita wajib heran kalo ada orang yang menjalani kehidupan tanpa mimpi, tanpa cita-cita, tanpa target, tanpa evaluasi, dan bahkan tanpa belajar. Sebab, hidup di dunia ini harus ada bekasnya. Baik untuk diri sendiri, orang lain, untuk agama kita, dan juga untuk ibadah kepada Allah Swt.
Sobat, insya Allah iman kita, ilmu kita, dan amal shalih kita akan memberikan tambahan kenikmatan dalam menjalani kehidupan di dunia ini sesuai dengan ajaran yang kita anut selama ini, yakni Islam.
Oke deh, , kiranya cukup sampai disini, ,
Semoga artikel ini dapat memberikan semangat dan wawasan baru buat kamu semua dalam menjalani kehidupan di dunia. Tetap optimis, sabar, bersyukur dan senantiasa menanamkan kekuatan iman, semangat mengkaji ilmu, dan gemar melakukan amal shalih kepada sesama. Sip deh, jadikan hidup yang memang sekali dan sesaat ini penuh makna dan nikmati sesuai aturanNya. Siap kan? Harus!

Link terkait : solihin@gaulislam.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Selasa, 15 Mei 2012

Hidup ini hanya sekali dan sesaat, so. . Go Move On . . !!

Diposkan oleh Aviani Nur Avivah di 09.45

v  Saat kita diciptakan
Rasulullah saw. yang mulia, para sahabatnya, para khalifah, para ulama, ilmuwan muslim di masa kejayaan Islam, pejuangnya dan orang-orang hebat dan mulia karena keimanan dan ketakwaan lainnya diciptakan dengan proses penciptaan yang sama. Berawal dari sel sperma yang membuahi sel telur dan atas izin Allah Swt, jadilah embrio, lalu dalam waktu tertentu tumbuh sebagai janin dan akhirnya lahir ke dunia. Bagaimana dengan para begundal macam Fir’aun, Abu Jahal, Hitler, Mussolini, George W Bush dan orang yang sejenis perilakunya dengan mereka, apakah diciptakan dari bahan yang berbeda dengan orang-orang yang mulia? Nggak. Sama, Bro. Semua manusia diciptakan sama. Bahan bakunya sama: sel sperma (air mani) dan ovum (sel telur).
Allah Swt, menyampaikan penjelasan ini dalam firmanNya (yang artinya): “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,” (QS al-Qiyaamah [75]: 37-38)
Dalam ayat lain (yang artinya): “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS al-Insaan [76]: 2)
amat jelas. Bahwa yang beriman dan yang kafir diciptakan oleh Allah Swt. dari bahan yang sama. So, yang membedakan mereka satu sama lain ketika sudah lahir ke dunia adalah informasi dan cara belajarnya untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Apa yang diperbuatnya di dunia inilah yang akan dipertanggung jawabkan nanti di akhirat kelak.
Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).” (QS al-Mu’min [40]: 67)
Juga dalam ayat yang lain Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS Kahfi [18]: 37)
Ayat-ayat ini membuktikan kepada kita bahwa manusia (anak keturunan Adam) diciptakan dari “bahan baku” yang sama. Orang yang sekarang beriman, berilmu dan gemar beramal shalih ditempatkan di rahim ibunya sebelum lahir ke dunia. Orang yang pikirannya korengan dan hatinya borok alias gemar maksiat dan tak mengimani Allah Swt. pun sebelum lahir ditempatkan sama di rahim ibunya. Tak ada bedanya.
Kalo dalam penciptaan saja sama, dan saat itu kita lemah kenapa harus merasa berkuasa dan menentang Allah Swt.? Kalo memang perkasa, harusnya nggak lemah dan bisa menghidupi diri sendiri sejak “menciptakan diri sendiri” sampai lahir ke dunia. Iya nggak sih? Nah inilah renungan buat kita semua, bahwa kita sejak awal penciptaan tak dibedakan prosesnya.
Oya, ini juga menjadi proses kesadaran bagi kita bahwa kita tak perlu merasa minder dengan orang yang hebat saat ini. Kita hanya perlu memahami bahwa “start” semua orang sama. Semua manusia lahir ke dunia setelah melalui proses yang sama. Itu sebabnya, tidak ada alasan bahwa kita harus menyerah dan tak semangat dalam hidup. Sebaliknya, siapkan diri untuk berprestasi. Karena hidup tak sekadar tumbuh, tapi juga harus berkembang. Kalo cuma tumbuh, kita jadi nggak ada bedanya dengan ‘peradaban’ hewan. Justru kelebihan manusia dari hewan adalah karena manusia memiliki akal untuk berpikir. Contoh nyata, manusia dengan pemikirannya bisa mengembangkan kehidupannya. Hewan tidak. Jika manusia kedinginan ia akan mencari kehangatan. Tidak puas dengan sekadar duduk di depan api unggun, manusia menciptakan pakaian pelindung, menciptakan tempat tinggal yang bukan saja melindunginya dari dingin, tapi juga sengatan matahari. Hewan? Malah manusia yang membuatkan rumah, eh kandangnya. Silakan eksplorasi sendiri perkembangan yang berhasil dibuat oleh manusia. Amat banyak dan bahkan teramat terbanyak. Allah Swt. memberikan semua itu untuk kebaikan manusia. Tetapi ternyata masih aja ada manusia yang nggak menyadarinya.
v  Hiasi dengan iman, ilmu dan amal
Para orangtua kita mungkin sering banget nasihatin kita soal kehidupan. Maklumlah, mereka kan lebih banyak waktu yang dihabiskannya di dunia ini ketimbang kita. Usianya aja jelas jauh beda ama kita. Iya dong, kalo seumuran namanya temen, bukan ortu. So, wajar banget dong kalo nasihatin kita-kita soal hidup. Karena ortu kita udah pengalaman puluhan tahun lebih lama di dunia ini ketimbang kita-kita. Tul nggak sih?
Sobat muda muslim, kita juga jadi bisa belajar kepada ortu atau siapa pun yang lebih pengalaman dan lebih tahu tentang bagaimana menjalani hidup dengan nyaman, aman, dan tentunya menikmatinya dengan senang hati. Meski, tentu saja, bukan hidup namanya kalo nggak ada rintangan, halangan, dan bahkan tekanan. Karena kehidupan itu sendiri adalah ladang ujian buat kita, sekaligus ladang ibadah dan amal. Kalo kita bisa menjalaninya dengan baik, maka ujian hidup itu akan memberikan kita pengalaman yang sangat berarti.
Itu sebabnya, kita wajib heran kalo ada orang yang menjalani kehidupan tanpa mimpi, tanpa cita-cita, tanpa target, tanpa evaluasi, dan bahkan tanpa belajar. Sebab, hidup di dunia ini harus ada bekasnya. Baik untuk diri sendiri, orang lain, untuk agama kita, dan juga untuk ibadah kepada Allah Swt.
Sobat, insya Allah iman kita, ilmu kita, dan amal shalih kita akan memberikan tambahan kenikmatan dalam menjalani kehidupan di dunia ini sesuai dengan ajaran yang kita anut selama ini, yakni Islam.
Oke deh, , kiranya cukup sampai disini, ,
Semoga artikel ini dapat memberikan semangat dan wawasan baru buat kamu semua dalam menjalani kehidupan di dunia. Tetap optimis, sabar, bersyukur dan senantiasa menanamkan kekuatan iman, semangat mengkaji ilmu, dan gemar melakukan amal shalih kepada sesama. Sip deh, jadikan hidup yang memang sekali dan sesaat ini penuh makna dan nikmati sesuai aturanNya. Siap kan? Harus!

Link terkait : solihin@gaulislam.com

0 komentar on "Hidup ini hanya sekali dan sesaat, so. . Go Move On . . !!"

Poskan Komentar