Rabu, 12 Desember 2012

Guru Profesional


GURU PROFESIONAL DAN METODE PEMBELAJARAN
SEBAGAI UPAYA DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu Semester V
Program Strata Satu (S.I) Fakultas Tarbiyah
Mata Kuliah: Administrasi Pendidikan

Dosen
SOBARI WALUYO SEJATI, M. Pd
 
Oleh
AVIANI NUR AVIVAH
NIM. 2104166

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(STAINU) KEBUMEN
2012


KATA PENGANTAR

Alhamdulullah segala puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan banyak kenikmatan, berupa segala yang telah dirasakan dalam kehidupan ini. Satu diantaranya adalah pemberian ilmu dan kemampuan menuangkannya kedalam bentuk tulisan serta menjadikannya kedalam bentuk makalah yang berjudul “Guru Profesional dan Metode Pembelajaran Sebagai upaya dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada beliau Nabi Akhiruz zaman yaitu Nabi Muhammad SAW, keluarga serta para sahabat-sahabat Baginda.
Penulis berkewajiban menyampaikan ucapan terima kasih kepada para dosen dan guru besar yang mana penulis banyak menimba ilmu dari padanya, khususnya Yth. Bp. Sobari, Ws, M. Pd yang telah memberikan ilmu baru dalam pelajaran Administrasi Pendidikan.
Tulisan ini tentu saja jauh dari sempurna, karenanya penulis senantiasa mengharapkan masukan dan kritik yang konstruksi dari pada pembaca. Meski disadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna, namun penulis tetap berharap bahwa tulisan ini bisa bermanfaat.
Akhir kata, dengan tangan terbuka dan rasa tanggung jawab kami mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat pembetulan dari para pembaca yang budiman, yang kiranya dapat meningkatkan motivasi dalam belajar. Amin.



                                                                                          Kebumen,   Oktober 2012


                                                                                                       Penyusun




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii

BAB I      PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang................................................................................... 1
B.       Rumusan Masalah.............................................................................. 2

BAB II    PEMBAHASAN
A.    Definisi Guru Profesional …………………………………………..     3
B.     Konsep profesionalisasi guru ………………………………………      4
C.     Guru Profesional sebagai pengendali mutu pendidikan ………........      5
D.    Metode Pembelajaran Guru Profesional.. …………………………..     7
BAB III   PENUTUP
A.       Kesimpulan......................................................................................... 14
B.       Saran................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... iv







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam rangka menghadapi era global yang diperkirakan ketat dengan persaingan disegala bidang kehidupan, khususnya dunia kerja yang semakin kompetitif, tidak ada alternatif lain selain berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui upaya peningkatan mutu pendidikan  di setiap jenjang pendidikan. Guna tercapainya tujuan yang dimaksud selain harus didukung pengembangan program dan kurikulum serta berbagai macam model penyelenggaraan pembelajaran siswa yang telah diamanatkan oleh Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional serta dipengaruhi perubahan perkembangan yang semakin cepat, maka peningkatan mutu atau kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh guru yang profesional atau dalam  perkataan lain profesionalisme guru merupakan pilar utama dalam peningkatan mutu pendidikan.
Guru merupakan unsur manusiawi yang sangat dekat hubungannya dengan anak didik dalam upaya pendidikan sehari-hari di sekolah. Dalam latar pembelajaran di sekolah pernyataan tersebut sangat tergantung kepada tingkat profesionalisme guru. Jadi, diantara keseluruhan komponen pada sistem pembelajaran di sekolah ada sebuah komponen yang paling esensial dan menentukan kualitas pembelajaran yaitu guru.[1] Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya bilamana dihipotesiskan bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan guru-guru yang profesional.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari guru profesional ?
2.      Bagaimanakah konsep profesionalisasi guru ?
3.      Bagaimanakah peran guru profesional sebagai pengendali mutu pendidikan ?
4.      Bagaimanakah penerapan keprofesionalisme guru dalam menggunakan metode pembelajaran guna meningkatkan mutu pendidikan ?












BAB 2
PEMBAHASAN
A.      Definisi Guru Profesional
Guru sebagai tenaga kependidikan harus mempunyai kualifikasi profesional yang perlu dikoordinasikan secara padu agar jasa kependidikannya terhadap peserta didik menjadi optimal dan utuh. Berkaitan dengan itu, Undang-undang Guru dan Dosen (UU no.14 tahun 2005) menyatakan bahwa guru profesional adalah guru yang mampu berperan untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik dengan menggunakan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu.
Guru profesional adalah guru yang ahli dibidangnya mempunyai pendidikan dan memperoleh pelatihan yang sesuai dengan bidangnya, melaksanakan proses belajar dan mengajar di kelas/ sekolah yang menjadi tanggungjawabnya, mengetahui secara persis apa yang mesti dilakukan dalam membimbing, mengajar, membina dan melatih peserta didik, sehingga kegiatan proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya sesuai target yang telah diprogramkan.[2] Untuk pengertian yang lebih lanjut, dikatakan bahwa guru memang harus ahli dibidangnya. Apabila guru hanya memiliki kemampuan dan motivasi yang tinggi tanpa disertai keahlian yang memadai maka justru akan merugikan orang lain. Karena mengingat guru di sini sebagai panutan bagi peserta didik. Apabila apa yang telah ia sampaikan tidak sesuai dengan kenyataan maka akan menjadi suatu kesalahan yang fatal dan akan merugikan orang lain.
Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya.[3] Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.
Walaupun banyak teori tentang guru profesional, namun dalam kaitan dengan implementasi peningkatan mutu pendidikan, sampai pada kesimpulan bahwa guru yang profesional adalah guru yang memiliki visi yang tepat dan berbagai aksi inovatif. 
B.       Konsep Profesionalisasi Guru
Secara konseptual, unjuk kerja guru menurut depdikbud mencangkup tiga aspek, yaitu (a) Kemampuan profesional, (b) Kemampuan social, (c) Kemampuan personal (pribadi). Kemudian tiga aspek ini dijabarkan sebagai berikut:[4]
a.    Kemampuan Profesional mencangkup :
1)      Penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkannya itu.
2)      Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan keguruan.
3)      Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.
b.    Kemampuan social mencangkup kemampuan untuk menyesuaikan diri tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawa tugasnya sebagai guru
c.    Kemampuan personal mencangkup :
1)      Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsure-unsurnya.
2)      Pemahaman, Penghayatan, dan  penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru.
3)      Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswa.
C.  Guru Profesional sebagai pengendali mutu Pendidkan
Guru sebagai komponen yang berperan dalam system pendidikan nasional memiliki peranan yang sangat strategis dalam proses pembelajaran secara khusus dan dalam proses pendidikan secara umum. Dan untuk meningkatkan mutu pendidikan, seorang guru haruslah bermutu dan berkinerja baik dalam era globalisasi ini.
Guru sebagai pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, guru wajib mengembangkan kemampuan profesionalnya agar dapat meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas, karena pendidikan dimasa yang akan datang menuntut ketrampilan profesi pendidikan yang bermutu.[5]
Guru sebagai tenaga professional yang merupakan factor penentu mutu pendidikan harus memilki ketrampilan manajemen dan administrasi di sekolah serta harus berperan sebagai pengembang budaya belajar siswa. Dalam tingkatan oprasional guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional, instruktusional dan eksperensial. [6]
Guru sebagai tenaga professional harus memenuhi beberapa kriteria,yaitu:[7]
1.      Mempunyai komitmen terhadap siswa dan proses belajarnya.
2.      Menguasai mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa
3.      Bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi
4.      Mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari lingkungan profesinya.

Untuk menjadi guru yang profesional ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh para guru, yaitu ; (1) Eksplaining Informing, showing how, initiating, directing, administering; (2) Unifying the group; (3) giving security; (4) Clarifying attitudes, beliefs, problems; (5) Diagnosing Learning problems; (6) Marking curriculum materials; (7) Evaluating, recording, reporting; (8) Enrichement community activities; (9) Organizing and arranging classroom; (10) Participating in school activities. Kemampuan-kemapuan tersebut sebaiknya dapat diterapkan oleh para guru untuk menuju profesionalisme.[8]
Abudin Nata memberikan ciri atau karakteristik guru profesional di antaranya:
1.      Guru selain memiliki wawasan pengetahuan tentang bidang materi yang akan di ajarkan juga memiliki keahlian dan ketrampilan untuk menyampaikannya. Kemampuan ini memberi manfaat pada kegiatan pembelajaran sehingga dapat dilaksanakan dengan efektif dan efesien.
2.      Guru profesional harus memiliki mental modern seperti: berpandangan jauh ke depan, menghargai waktu, disiplin, kreatif, inovatif, dinamis, penuh percaya diri, terbuka, dan menghargai orang lain.
3.      Guru profesional juga tidak mengabaikan kekuatan jiwa agama, bermoral, dan berakhlak mulia sehingga diharapkan guru tidak terpengaruh oleh adanya faham-faham kehidupan yang mengarah pada sifat sekularistik. [9]

D.    Metode Pembelajaran Guru Profesional
Penerapan sikap keprofesionalisme guru dapat diketahui dari bagaimana seorang guru tersebut mampu menerapkan metode pembelajaran yang merupakan cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu yaitu proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Metode pembelajaran merupakan cara untuk menyampaikan, menyajikan, memberi latihan, dan memberi contoh pelajaran kepada siswa. Dengan demikian metode dapat dikembangkan dari pengalaman, seseorang guru yang  berpengalaman dia dapat menyuguhkan materi kepada siswa, dan siswa mudah menyerapkan materi yang disampaikan oleh seorang guru secara sempurna dengan memepergunakan metode yang dikembangkan dengan dasar pengalamannya, metode-metode dapat dipergunakan secara variatif, dalam arti kata tidak monoton dalam satu metode.
Banyak metode pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam menyajikan pelajaran kepada siswa-siswa, seperti metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, penampilan, metode studi mandiri, pembelajaran terprogaram, latihan sesama teman, simulasi, karya wisata, induksi, deduksi, simulasi, studi kasus, pemecahan masalah, insiden, seminar, bermain peran, proyek, praktikum, dan lain-lain.[10]
Dalam proses belajar mengajar, guru dihadapkan untuk memilih metode-metode dari sekian banyak metode yang telah ditemui para ahli sebelum ia menyampaikan materi pengajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Namun dalam hal ini seorang guru tidak asal memilih metode pembelajarannya tetapi harus memenuhi pertimbangan-pertimbangan diantaranya harus memperhatikan tujuan pembelajaran, pengetahuan awal siswa, bidang studi/pokok bahasan/aspek, alokasi waktu dan sarana penunjang, jumlah siswa serta pengalaman dan kewibawaan pengajar. [11]
1.      Tujuan Pembelajaran
Penentuan tujuan pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi guru dalam memilih metode yang akan digunakan di dalam menyajikan materi pengajaran. Tujuan pembelajaran merupakan sasaran yang hendak dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa. Sasaran tersebut dapat terwujud dengan menggunakan metode-metode pembelajaran. [12]
2.      Pengetahuan Awal Siswa
Pengetahuan awal dapat berasal dari pokok bahasan yang akan diajarkan, jika siswa tidak memiliki prinsip, konsep dan fakta atau memiliki pengalaman, maka kemungkinan besar mereka belum dapat dipergunakan metode yang bersifat belajar mandiri, penampilan, latihan dengan teman, sumbang saran, praktikum, bermain peran dan lain-lain. Untuk mengetahui pengetahuan awal siswa biasanya guru dapat melakukan pretes tertulis maupun tanya jawab diawal pelajaran.
3.      Bidang Studi/Pokok Bahasan
Pada sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah, program studi diatur dalam tiga kelompok. Pertama;program pendidikan umum, kedua;program pendidikan akademik, ketiga;program pendidikan ketrampilan. Program pendidikan akademik yang bidang studinya berkaitan dengan keterampilan, maka metode yang akan digunakan lebih berorientasi pada masing-masing ranah (kognitif, afektif dan psikomotorik) yang terdapat dalam pokok bahasan. Misalnya pokok bahasan psikomotorik maka metode yang pergunakan lebih cocok ke metode demonstrasi dan lain-lain.
4. Alokasi waktu dan Sarana Penunjang
Mengenai alokasi waktu dan sarana penunjang  juga merupakan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran karena apabila guru menggunakan metode yang kurang tepat maka proses belajar mengajar akan menjadi terhambat.
5.       Jumlah Siswa
Jumlah siswa ini sangat menentukan efektif atau tidaknya  proses pembelajaran di kelas. Apabila ukuran kelas besar dan jumlah siswa yang banyak metode ceramah yang lebih efektif, di samping metode ceramah guru dapat melaksanakan tanya jawab, dan diskusi.
6.      Pengalaman dan Kewibawaan Mengajar
Guru yang baik adalah guru yang berpengalaman, seperti peka dengan masalah, memecahkan masalah, memilih metode yang tepat, merumuskan tujuan instruksional, memotivasi siswa, dan mengelola siswa.
Disamping berpengalaman guru juga harus berwibawa, kewibawaan merupakan kelengkapan mutlak yang bersifat abstrak bagi guru karena ia berhadapan dan mengelola siswa yang berbeda latar belakang akademik dan social, ia tokoh yang disegani bukan tokoh yang ditakuti oleh peserta didiknya.
Kewibawaan yang dimiliki oleh guru terbagi menjadi dua, yaitu pertama; Kebiwaan kasih sayang seperti yang dimiliki ayah dan ibu, ia menyayangi anak-anaknya tanpa pilih kasih, dan berharap anaknya akan tumbuh dan berkembang berguna bagi agam, masyarakat, nusa dan bangsa. Kedua; Kewibawaan jabatan, ia dapat memerintah, mengatur, menasehati siswa yang berguan bagi manajemen pendidikan.[13]
Di bawah ini digambarkan sinkronisasi antara metode dengan kemampuan yang akan dicapai berdasarkan indikator yang telah dirancang atau disepakati oleh guru atau guru bersama siswa. Nantinya diharapkan guru, pelatih dan instruktur dapat memilih metode apa yang paling tepat dengan mempertimbangkan jumlah siswa, alat, fasilitas, biaya, dan waktu.
No.
METODE
KEMAMPUAN YANG AKAN DICAPAI BERDASARKAN INDIKATOR
1.
Ceramah
Menjelaskan konsep/prinsip/prosedur.
2.
Demonstrasi
Menjelaskan suatu ketrampilan berdasarkan standart prosedur tertentu.
3.
Tanya jawab
Mendapatkan umpan balik/partisipasi/menganalisis
4.
Penampilan
Melakukan suatu ketrampilan.
5.
Diskusi
Menganalisis/memecahkan masalah.
6.
Studi Mandiri
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis/mensintesis/
Mengevaluasi/melakukan sesuatu baik yang bersifat kognitif maupun psikomotor
7.
Kegiatan pembelajaran terprogram
Menjelaskan konsep/prinsip/prosedur
8.
Latihan bersama teman
Melakukan sesuatu ketrampilan
9.
Simulasi
Menjelaskan/menerapkan/menganalisais suatu konsep dan prinsip.
10.
Pemecahan masalah
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis konsep/prosedur/prinsip tertentu
11.
Studi kasus
Menganalis dan memecahkan masalah.
12.
Insiden
Menganalis dan memecahkan masalah
13.
Praktikum
Melakukan sesuatu ketrampilan.
14.
Proyek
Melakukan sesuatu/menyusun laporan suatu kegiatan.
15.
Bermain peran
Menerapkan suatu konsep/prinsip
16.
Seminar
Menganalisis/memecahkan masalah
17.
Simposium
Menganalisis masalah
18.
Tutorial
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis konsep/prosedur/prinsip tertentu
19.
Deduksi
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis konsep/prosedur/prinsip tertentu
20.
Induksi
Mensintesis suatu konsep
21.
Computer assisted learning
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis/mensintesis/
Mengevaluasi
Seorang guru yang profesional akan mampu menyesuaikan kondisi yang tepat pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Mereka akan mampu menerapkan metode apa yang tepat untuk diberikan kepada anak didiknya. Mereka yang profesional akan terlihat dari bagaimana cara mereka menyajikan materi kepada para siswa. Jadi, melalui implementasi metode pembelajaran ini dapat diketahui bagaimanakah guru yang profesional dalam hal penguasaan cara mengajar.  









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Profesionalisme guru sangat diperlukan dalam peningkatan mutu pendidikan, karena guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Apabila tenaga pengajar ini bisa dengan profesional melaksanakan tugasnya maka kualitas peserta didik juga akan baik. Setiap guru harus mengetahui bagaimana guru dikatakan profesional, sebab dengan pengetahuan tersebut guru bisa menyesuaikan keadaan yang ada pada dirinya, dalam arti apabila guru tersebut merasa dirinya kurang profesional maka diharapkan ia akan berusaha meningkatkan keprofesionalisme dirinya.
Peningkatan profesionalisme guru ini sangat penting demi terwujudnya sumber daya yang berkualitas yang dapat diandalkan. Seorang guru yang professional dapat dilihat dari implementasinya dalam menggunakan metode pembelajaran pada proses kegiata belajar mengajar. Profesionalisme guru dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya baik itu melalui kegiatan seminar, pelatihan, adanya sertifikasi, melalui kegiatan penyuluhan dan lain-lain.
Guru sebagai motor penggerak utama pelaku proses pembel ajaran dikelas harus menerapkan manajemen mutu terpadu dalam mengontrol dan menjamin mutu proses pembelajaran dan hasil pembelajaran di kelas. Hanya dengan tindakan control mutu dan penjaminan mutu yang dilakukan oleh guru mutu pendidikan nasional dapat ditingkatkan.


B.     Saran
Sebagai seseorang yang peduli terhadap pendidikan, hendaknya kita selalu berupaya meningkatkan mutu pendidikan tersebut melalui berbagai cara. Umumnya kita sebagai tenaga pendidikan dan khususnya untuk para guru yang memang menjadi penunjang utama dalam peningkatan mutu pendidikan.
Para guru hendaknya selalu berupaya untuk meningkatan kualitas diri agar bisa menjadi guru yang profesional. Para guru jangan terlalu puas dengan kemampuan yang telah dimiliki, namun harus selalu berusaha mengintrospeksi diri dan berusaha memperbaikinya. Jangan menghalalkan segala cara hanya untuk mengejar materi semata. Guru sebagai teladan harus bisa memberi contoh yang baik kepada anak didik dan harus bisa menguasai ilmu pengetahuan agar bisa mengantarkan anak didik menuju kesuksesan dan bisa menjadi penunjang keberhasilan pendidikan.










                                                                          

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hadis,Nurhayati, 2010, Manajemen Mutu Pendidikan, Bandung; Alfabeta
Bafadal, Ibrahim. 2003. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasan, 2003, Guru yang Profesional, Bandung:UPI
Nata, Abudin. 2001. Paradikma Pendidikan Islam. Jakarta. Grasindo
Sanusi, achmad, 1991, Studi Pengembangan Pendidikan, Ikip Bandung,
Yamin Martinis, 2006, Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP, Jakarta; Gaung Persada Pers.



[1] Bafadal, Ibrahim. 2003. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
[3] Ibid
[4] Sanusi, achmad, Studi Pengembangan Pendidikan, (Ikip Bandung,1991) Hlm. 36
[5] Abdul Hadis,Nurhayati, Manajemen Mutu Pendidikan,(Bandung; Alfabeta, 2010) Hlm 4
[6] Ibid, Hlm.5
[7] Hasan, Guru yang Profesional, (Bandung:UPI, 2003)  Hlm. 5
[8] Abdul Hadis,Nurhayati, Manajemen Mutu Pendidikan,(Bandung; Alfabeta, 2010) Hlm 7
[9] Nata, Abudin. Paradikma Pendidikan Islam. (Jakarta. Grasindo, 2001) Hal.165
[10] Yamin Martinis, Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP, (Jakarta; Gaung Persada Pers,2006)Hal.132
[11] Ibid, Hlm. 148
[12] Ibid, Hlm. 133
[13] Ibid, Hlm. 138

0 komentar:

Poskan Komentar

Rabu, 12 Desember 2012

Guru Profesional

Diposkan oleh Aviani Nur Avivah di 14.40

GURU PROFESIONAL DAN METODE PEMBELAJARAN
SEBAGAI UPAYA DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu Semester V
Program Strata Satu (S.I) Fakultas Tarbiyah
Mata Kuliah: Administrasi Pendidikan

Dosen
SOBARI WALUYO SEJATI, M. Pd
 
Oleh
AVIANI NUR AVIVAH
NIM. 2104166

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(STAINU) KEBUMEN
2012


KATA PENGANTAR

Alhamdulullah segala puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan banyak kenikmatan, berupa segala yang telah dirasakan dalam kehidupan ini. Satu diantaranya adalah pemberian ilmu dan kemampuan menuangkannya kedalam bentuk tulisan serta menjadikannya kedalam bentuk makalah yang berjudul “Guru Profesional dan Metode Pembelajaran Sebagai upaya dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada beliau Nabi Akhiruz zaman yaitu Nabi Muhammad SAW, keluarga serta para sahabat-sahabat Baginda.
Penulis berkewajiban menyampaikan ucapan terima kasih kepada para dosen dan guru besar yang mana penulis banyak menimba ilmu dari padanya, khususnya Yth. Bp. Sobari, Ws, M. Pd yang telah memberikan ilmu baru dalam pelajaran Administrasi Pendidikan.
Tulisan ini tentu saja jauh dari sempurna, karenanya penulis senantiasa mengharapkan masukan dan kritik yang konstruksi dari pada pembaca. Meski disadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna, namun penulis tetap berharap bahwa tulisan ini bisa bermanfaat.
Akhir kata, dengan tangan terbuka dan rasa tanggung jawab kami mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat pembetulan dari para pembaca yang budiman, yang kiranya dapat meningkatkan motivasi dalam belajar. Amin.



                                                                                          Kebumen,   Oktober 2012


                                                                                                       Penyusun




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii

BAB I      PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang................................................................................... 1
B.       Rumusan Masalah.............................................................................. 2

BAB II    PEMBAHASAN
A.    Definisi Guru Profesional …………………………………………..     3
B.     Konsep profesionalisasi guru ………………………………………      4
C.     Guru Profesional sebagai pengendali mutu pendidikan ………........      5
D.    Metode Pembelajaran Guru Profesional.. …………………………..     7
BAB III   PENUTUP
A.       Kesimpulan......................................................................................... 14
B.       Saran................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... iv







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam rangka menghadapi era global yang diperkirakan ketat dengan persaingan disegala bidang kehidupan, khususnya dunia kerja yang semakin kompetitif, tidak ada alternatif lain selain berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui upaya peningkatan mutu pendidikan  di setiap jenjang pendidikan. Guna tercapainya tujuan yang dimaksud selain harus didukung pengembangan program dan kurikulum serta berbagai macam model penyelenggaraan pembelajaran siswa yang telah diamanatkan oleh Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional serta dipengaruhi perubahan perkembangan yang semakin cepat, maka peningkatan mutu atau kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh guru yang profesional atau dalam  perkataan lain profesionalisme guru merupakan pilar utama dalam peningkatan mutu pendidikan.
Guru merupakan unsur manusiawi yang sangat dekat hubungannya dengan anak didik dalam upaya pendidikan sehari-hari di sekolah. Dalam latar pembelajaran di sekolah pernyataan tersebut sangat tergantung kepada tingkat profesionalisme guru. Jadi, diantara keseluruhan komponen pada sistem pembelajaran di sekolah ada sebuah komponen yang paling esensial dan menentukan kualitas pembelajaran yaitu guru.[1] Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya bilamana dihipotesiskan bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan guru-guru yang profesional.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari guru profesional ?
2.      Bagaimanakah konsep profesionalisasi guru ?
3.      Bagaimanakah peran guru profesional sebagai pengendali mutu pendidikan ?
4.      Bagaimanakah penerapan keprofesionalisme guru dalam menggunakan metode pembelajaran guna meningkatkan mutu pendidikan ?












BAB 2
PEMBAHASAN
A.      Definisi Guru Profesional
Guru sebagai tenaga kependidikan harus mempunyai kualifikasi profesional yang perlu dikoordinasikan secara padu agar jasa kependidikannya terhadap peserta didik menjadi optimal dan utuh. Berkaitan dengan itu, Undang-undang Guru dan Dosen (UU no.14 tahun 2005) menyatakan bahwa guru profesional adalah guru yang mampu berperan untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik dengan menggunakan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu.
Guru profesional adalah guru yang ahli dibidangnya mempunyai pendidikan dan memperoleh pelatihan yang sesuai dengan bidangnya, melaksanakan proses belajar dan mengajar di kelas/ sekolah yang menjadi tanggungjawabnya, mengetahui secara persis apa yang mesti dilakukan dalam membimbing, mengajar, membina dan melatih peserta didik, sehingga kegiatan proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya sesuai target yang telah diprogramkan.[2] Untuk pengertian yang lebih lanjut, dikatakan bahwa guru memang harus ahli dibidangnya. Apabila guru hanya memiliki kemampuan dan motivasi yang tinggi tanpa disertai keahlian yang memadai maka justru akan merugikan orang lain. Karena mengingat guru di sini sebagai panutan bagi peserta didik. Apabila apa yang telah ia sampaikan tidak sesuai dengan kenyataan maka akan menjadi suatu kesalahan yang fatal dan akan merugikan orang lain.
Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya.[3] Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.
Walaupun banyak teori tentang guru profesional, namun dalam kaitan dengan implementasi peningkatan mutu pendidikan, sampai pada kesimpulan bahwa guru yang profesional adalah guru yang memiliki visi yang tepat dan berbagai aksi inovatif. 
B.       Konsep Profesionalisasi Guru
Secara konseptual, unjuk kerja guru menurut depdikbud mencangkup tiga aspek, yaitu (a) Kemampuan profesional, (b) Kemampuan social, (c) Kemampuan personal (pribadi). Kemudian tiga aspek ini dijabarkan sebagai berikut:[4]
a.    Kemampuan Profesional mencangkup :
1)      Penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkannya itu.
2)      Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan keguruan.
3)      Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.
b.    Kemampuan social mencangkup kemampuan untuk menyesuaikan diri tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawa tugasnya sebagai guru
c.    Kemampuan personal mencangkup :
1)      Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsure-unsurnya.
2)      Pemahaman, Penghayatan, dan  penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru.
3)      Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswa.
C.  Guru Profesional sebagai pengendali mutu Pendidkan
Guru sebagai komponen yang berperan dalam system pendidikan nasional memiliki peranan yang sangat strategis dalam proses pembelajaran secara khusus dan dalam proses pendidikan secara umum. Dan untuk meningkatkan mutu pendidikan, seorang guru haruslah bermutu dan berkinerja baik dalam era globalisasi ini.
Guru sebagai pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, guru wajib mengembangkan kemampuan profesionalnya agar dapat meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas, karena pendidikan dimasa yang akan datang menuntut ketrampilan profesi pendidikan yang bermutu.[5]
Guru sebagai tenaga professional yang merupakan factor penentu mutu pendidikan harus memilki ketrampilan manajemen dan administrasi di sekolah serta harus berperan sebagai pengembang budaya belajar siswa. Dalam tingkatan oprasional guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional, instruktusional dan eksperensial. [6]
Guru sebagai tenaga professional harus memenuhi beberapa kriteria,yaitu:[7]
1.      Mempunyai komitmen terhadap siswa dan proses belajarnya.
2.      Menguasai mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa
3.      Bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi
4.      Mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari lingkungan profesinya.

Untuk menjadi guru yang profesional ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh para guru, yaitu ; (1) Eksplaining Informing, showing how, initiating, directing, administering; (2) Unifying the group; (3) giving security; (4) Clarifying attitudes, beliefs, problems; (5) Diagnosing Learning problems; (6) Marking curriculum materials; (7) Evaluating, recording, reporting; (8) Enrichement community activities; (9) Organizing and arranging classroom; (10) Participating in school activities. Kemampuan-kemapuan tersebut sebaiknya dapat diterapkan oleh para guru untuk menuju profesionalisme.[8]
Abudin Nata memberikan ciri atau karakteristik guru profesional di antaranya:
1.      Guru selain memiliki wawasan pengetahuan tentang bidang materi yang akan di ajarkan juga memiliki keahlian dan ketrampilan untuk menyampaikannya. Kemampuan ini memberi manfaat pada kegiatan pembelajaran sehingga dapat dilaksanakan dengan efektif dan efesien.
2.      Guru profesional harus memiliki mental modern seperti: berpandangan jauh ke depan, menghargai waktu, disiplin, kreatif, inovatif, dinamis, penuh percaya diri, terbuka, dan menghargai orang lain.
3.      Guru profesional juga tidak mengabaikan kekuatan jiwa agama, bermoral, dan berakhlak mulia sehingga diharapkan guru tidak terpengaruh oleh adanya faham-faham kehidupan yang mengarah pada sifat sekularistik. [9]

D.    Metode Pembelajaran Guru Profesional
Penerapan sikap keprofesionalisme guru dapat diketahui dari bagaimana seorang guru tersebut mampu menerapkan metode pembelajaran yang merupakan cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu yaitu proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Metode pembelajaran merupakan cara untuk menyampaikan, menyajikan, memberi latihan, dan memberi contoh pelajaran kepada siswa. Dengan demikian metode dapat dikembangkan dari pengalaman, seseorang guru yang  berpengalaman dia dapat menyuguhkan materi kepada siswa, dan siswa mudah menyerapkan materi yang disampaikan oleh seorang guru secara sempurna dengan memepergunakan metode yang dikembangkan dengan dasar pengalamannya, metode-metode dapat dipergunakan secara variatif, dalam arti kata tidak monoton dalam satu metode.
Banyak metode pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam menyajikan pelajaran kepada siswa-siswa, seperti metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, penampilan, metode studi mandiri, pembelajaran terprogaram, latihan sesama teman, simulasi, karya wisata, induksi, deduksi, simulasi, studi kasus, pemecahan masalah, insiden, seminar, bermain peran, proyek, praktikum, dan lain-lain.[10]
Dalam proses belajar mengajar, guru dihadapkan untuk memilih metode-metode dari sekian banyak metode yang telah ditemui para ahli sebelum ia menyampaikan materi pengajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Namun dalam hal ini seorang guru tidak asal memilih metode pembelajarannya tetapi harus memenuhi pertimbangan-pertimbangan diantaranya harus memperhatikan tujuan pembelajaran, pengetahuan awal siswa, bidang studi/pokok bahasan/aspek, alokasi waktu dan sarana penunjang, jumlah siswa serta pengalaman dan kewibawaan pengajar. [11]
1.      Tujuan Pembelajaran
Penentuan tujuan pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi guru dalam memilih metode yang akan digunakan di dalam menyajikan materi pengajaran. Tujuan pembelajaran merupakan sasaran yang hendak dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa. Sasaran tersebut dapat terwujud dengan menggunakan metode-metode pembelajaran. [12]
2.      Pengetahuan Awal Siswa
Pengetahuan awal dapat berasal dari pokok bahasan yang akan diajarkan, jika siswa tidak memiliki prinsip, konsep dan fakta atau memiliki pengalaman, maka kemungkinan besar mereka belum dapat dipergunakan metode yang bersifat belajar mandiri, penampilan, latihan dengan teman, sumbang saran, praktikum, bermain peran dan lain-lain. Untuk mengetahui pengetahuan awal siswa biasanya guru dapat melakukan pretes tertulis maupun tanya jawab diawal pelajaran.
3.      Bidang Studi/Pokok Bahasan
Pada sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah, program studi diatur dalam tiga kelompok. Pertama;program pendidikan umum, kedua;program pendidikan akademik, ketiga;program pendidikan ketrampilan. Program pendidikan akademik yang bidang studinya berkaitan dengan keterampilan, maka metode yang akan digunakan lebih berorientasi pada masing-masing ranah (kognitif, afektif dan psikomotorik) yang terdapat dalam pokok bahasan. Misalnya pokok bahasan psikomotorik maka metode yang pergunakan lebih cocok ke metode demonstrasi dan lain-lain.
4. Alokasi waktu dan Sarana Penunjang
Mengenai alokasi waktu dan sarana penunjang  juga merupakan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran karena apabila guru menggunakan metode yang kurang tepat maka proses belajar mengajar akan menjadi terhambat.
5.       Jumlah Siswa
Jumlah siswa ini sangat menentukan efektif atau tidaknya  proses pembelajaran di kelas. Apabila ukuran kelas besar dan jumlah siswa yang banyak metode ceramah yang lebih efektif, di samping metode ceramah guru dapat melaksanakan tanya jawab, dan diskusi.
6.      Pengalaman dan Kewibawaan Mengajar
Guru yang baik adalah guru yang berpengalaman, seperti peka dengan masalah, memecahkan masalah, memilih metode yang tepat, merumuskan tujuan instruksional, memotivasi siswa, dan mengelola siswa.
Disamping berpengalaman guru juga harus berwibawa, kewibawaan merupakan kelengkapan mutlak yang bersifat abstrak bagi guru karena ia berhadapan dan mengelola siswa yang berbeda latar belakang akademik dan social, ia tokoh yang disegani bukan tokoh yang ditakuti oleh peserta didiknya.
Kewibawaan yang dimiliki oleh guru terbagi menjadi dua, yaitu pertama; Kebiwaan kasih sayang seperti yang dimiliki ayah dan ibu, ia menyayangi anak-anaknya tanpa pilih kasih, dan berharap anaknya akan tumbuh dan berkembang berguna bagi agam, masyarakat, nusa dan bangsa. Kedua; Kewibawaan jabatan, ia dapat memerintah, mengatur, menasehati siswa yang berguan bagi manajemen pendidikan.[13]
Di bawah ini digambarkan sinkronisasi antara metode dengan kemampuan yang akan dicapai berdasarkan indikator yang telah dirancang atau disepakati oleh guru atau guru bersama siswa. Nantinya diharapkan guru, pelatih dan instruktur dapat memilih metode apa yang paling tepat dengan mempertimbangkan jumlah siswa, alat, fasilitas, biaya, dan waktu.
No.
METODE
KEMAMPUAN YANG AKAN DICAPAI BERDASARKAN INDIKATOR
1.
Ceramah
Menjelaskan konsep/prinsip/prosedur.
2.
Demonstrasi
Menjelaskan suatu ketrampilan berdasarkan standart prosedur tertentu.
3.
Tanya jawab
Mendapatkan umpan balik/partisipasi/menganalisis
4.
Penampilan
Melakukan suatu ketrampilan.
5.
Diskusi
Menganalisis/memecahkan masalah.
6.
Studi Mandiri
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis/mensintesis/
Mengevaluasi/melakukan sesuatu baik yang bersifat kognitif maupun psikomotor
7.
Kegiatan pembelajaran terprogram
Menjelaskan konsep/prinsip/prosedur
8.
Latihan bersama teman
Melakukan sesuatu ketrampilan
9.
Simulasi
Menjelaskan/menerapkan/menganalisais suatu konsep dan prinsip.
10.
Pemecahan masalah
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis konsep/prosedur/prinsip tertentu
11.
Studi kasus
Menganalis dan memecahkan masalah.
12.
Insiden
Menganalis dan memecahkan masalah
13.
Praktikum
Melakukan sesuatu ketrampilan.
14.
Proyek
Melakukan sesuatu/menyusun laporan suatu kegiatan.
15.
Bermain peran
Menerapkan suatu konsep/prinsip
16.
Seminar
Menganalisis/memecahkan masalah
17.
Simposium
Menganalisis masalah
18.
Tutorial
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis konsep/prosedur/prinsip tertentu
19.
Deduksi
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis konsep/prosedur/prinsip tertentu
20.
Induksi
Mensintesis suatu konsep
21.
Computer assisted learning
Menjelaskan/menerapkan/menganalisis/mensintesis/
Mengevaluasi
Seorang guru yang profesional akan mampu menyesuaikan kondisi yang tepat pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Mereka akan mampu menerapkan metode apa yang tepat untuk diberikan kepada anak didiknya. Mereka yang profesional akan terlihat dari bagaimana cara mereka menyajikan materi kepada para siswa. Jadi, melalui implementasi metode pembelajaran ini dapat diketahui bagaimanakah guru yang profesional dalam hal penguasaan cara mengajar.  









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Profesionalisme guru sangat diperlukan dalam peningkatan mutu pendidikan, karena guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Apabila tenaga pengajar ini bisa dengan profesional melaksanakan tugasnya maka kualitas peserta didik juga akan baik. Setiap guru harus mengetahui bagaimana guru dikatakan profesional, sebab dengan pengetahuan tersebut guru bisa menyesuaikan keadaan yang ada pada dirinya, dalam arti apabila guru tersebut merasa dirinya kurang profesional maka diharapkan ia akan berusaha meningkatkan keprofesionalisme dirinya.
Peningkatan profesionalisme guru ini sangat penting demi terwujudnya sumber daya yang berkualitas yang dapat diandalkan. Seorang guru yang professional dapat dilihat dari implementasinya dalam menggunakan metode pembelajaran pada proses kegiata belajar mengajar. Profesionalisme guru dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya baik itu melalui kegiatan seminar, pelatihan, adanya sertifikasi, melalui kegiatan penyuluhan dan lain-lain.
Guru sebagai motor penggerak utama pelaku proses pembel ajaran dikelas harus menerapkan manajemen mutu terpadu dalam mengontrol dan menjamin mutu proses pembelajaran dan hasil pembelajaran di kelas. Hanya dengan tindakan control mutu dan penjaminan mutu yang dilakukan oleh guru mutu pendidikan nasional dapat ditingkatkan.


B.     Saran
Sebagai seseorang yang peduli terhadap pendidikan, hendaknya kita selalu berupaya meningkatkan mutu pendidikan tersebut melalui berbagai cara. Umumnya kita sebagai tenaga pendidikan dan khususnya untuk para guru yang memang menjadi penunjang utama dalam peningkatan mutu pendidikan.
Para guru hendaknya selalu berupaya untuk meningkatan kualitas diri agar bisa menjadi guru yang profesional. Para guru jangan terlalu puas dengan kemampuan yang telah dimiliki, namun harus selalu berusaha mengintrospeksi diri dan berusaha memperbaikinya. Jangan menghalalkan segala cara hanya untuk mengejar materi semata. Guru sebagai teladan harus bisa memberi contoh yang baik kepada anak didik dan harus bisa menguasai ilmu pengetahuan agar bisa mengantarkan anak didik menuju kesuksesan dan bisa menjadi penunjang keberhasilan pendidikan.










                                                                          

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hadis,Nurhayati, 2010, Manajemen Mutu Pendidikan, Bandung; Alfabeta
Bafadal, Ibrahim. 2003. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasan, 2003, Guru yang Profesional, Bandung:UPI
Nata, Abudin. 2001. Paradikma Pendidikan Islam. Jakarta. Grasindo
Sanusi, achmad, 1991, Studi Pengembangan Pendidikan, Ikip Bandung,
Yamin Martinis, 2006, Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP, Jakarta; Gaung Persada Pers.



[1] Bafadal, Ibrahim. 2003. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
[3] Ibid
[4] Sanusi, achmad, Studi Pengembangan Pendidikan, (Ikip Bandung,1991) Hlm. 36
[5] Abdul Hadis,Nurhayati, Manajemen Mutu Pendidikan,(Bandung; Alfabeta, 2010) Hlm 4
[6] Ibid, Hlm.5
[7] Hasan, Guru yang Profesional, (Bandung:UPI, 2003)  Hlm. 5
[8] Abdul Hadis,Nurhayati, Manajemen Mutu Pendidikan,(Bandung; Alfabeta, 2010) Hlm 7
[9] Nata, Abudin. Paradikma Pendidikan Islam. (Jakarta. Grasindo, 2001) Hal.165
[10] Yamin Martinis, Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP, (Jakarta; Gaung Persada Pers,2006)Hal.132
[11] Ibid, Hlm. 148
[12] Ibid, Hlm. 133
[13] Ibid, Hlm. 138

0 komentar on "Guru Profesional"

Poskan Komentar